No icon

Sports

Sadio Mane, Pesepak Bola Terhebat Saat Ini yang Rendah Hati

Poros.news - Saat ini Sadio Mane sedang beada di puncak kariernya sebagai pesepak bola. Yang membuat banyak orang takjub, hal tersebut tak membuat Mane menjadi sosok yang sombong. 

Hingga kini, Mane masih dikenal orang-orang sekitarnya sebagai manusia yang rendah hati. Begitulah jika mengacu cerita dari imam dari Masjid Al Rahma Liverpool, Abu Usamah Al-Tahabi.

"Dia rajin datang ke masjid. Di rumahnya, dia punya Bentley tetapi datang ke sini dengan mobil yang tak mewah supaya tak mencolok. Dia bukanlah orang yang ingin dipuja dan itulah yang membuatnya jauh dari kata arogan," ucap Al-Tahabi.

Al-Tahabi turut bercerita mengenai momen Mane di Masjid Al Rahma. Di tahun 2018, video Mane tengah membersihkan lantai toilet Masjid Al Rahma tersebar luas di internet. Imbasnya, Mane pun mendapatkan pujian dari publik sepak bola.

Soal ini, Al-Tahabi menuturkan bahwa sebenarnya Mane telah meminta agar video ini jangan sampai bocor ke internet.

"Sebenarnya, Sadio [Mane] telah meminta supaya video itu tak tersebar. Dia ingin hal-hal seperti ini tak perlu dibesar-besarkan. Dia tak melakukannya untuk dimuat di surat kabar. Tetapi, yang terjadi malah sebaliknya," imbuhnya.

Lantas, bagaimana bisa Mane jauh dengan citra glamor yang begitu lekat dengan pesepak bola masa kini? Kata Al-Thabi, musababnya yakni, Mane tak lupa bahwa dia berasal dari daerah kecil bernama Bambali, Senegal.

"Sadio datang dari komunitas dengan kualitas hidup yang memprihatinkan dan itu yang membentuknya menjadi manusia yang selalu ingin menolong orang lain," ucap Al-Thabi.

"Dia sendiri suka mengambil inisiatif dan itu tak hanya terjadi di sini. Di kampungnya, dia telah mendirikan masjid juga," lanjutnya.

Penuturan Al-Thabi ini jelas berdasar. Tak hanya masjid, Mane juga telah mendanai proyek pembangunan sekolah di Bambali. Dia pula pernah memberikan 300 jersi Liverpool secara cuma-cuma kepada orang di kampung halamannya pada Mei 2018.

Mane sendiri merasakan masa kecil yang cukup keras di Bambali. Kala Mane kecil, Bambali merupakan kawasan gerakan separatis. Namun, di kala teman-temannya memendam kecintaan terhadap sepak bola, Mane malah berusaha mengejarnya.

Lalu dia pun memfokuskan diri untuk menjadi pesepak bola di usia 15 tahun, kabur ke Eropa, dan kini sukses di Liverpool. Nyatanya, semua itu membentuk Mane menjadi manusia yang tak lupa untuk menolong sesama, di mana pun dia berada.

Comment