No icon

news

Refleksi Kebangkitan Riset, Inovasi dan Teknologi Indonesia

Poros.news - Sejak akhir Februari - awal Maret 2020, saya dan senior saya Kamaluddin Zarkasie telah merintis, Prakarsa Percepatan Produksi IgY Antiserum Covid-19.

Sebuah upaya memanfaatkan teknologi yang sudah terbukti dan masih eksis sejak ratusan tahun lalu, sebagai misi kemanusiaan mengatasi pandemik Covid-19.

Hari ini, Rabu 20 Mei 2020, saya merasa prihatin, karena ditengah momentum Kebangkitan Nasional, kembali pecah rekor “kebangkitan” orang terjangkit positif virus Covid-19.

Terlebih, belakangan ini, sungguh memprihatinkan karena perdebatan publik hanya diramaikan dan terfokus, pada seputar pelaksanaan PSBB.

PSBB, Isolasi, Karantina, Lockdown adalah upaya untuk mengendalikan penularan dan penyebaran virus Covid-19 (SARS-Cov-2). 

Perlu komitmen dan disipilin untuk mewujudkannya.

Bukan berarti tidak perlu, tapi, karena virus akan hidup terus bersama manusia, maka akar (substansi) dari solusinya, bukan memperdebatkan perlu atau tidak PSBB dan lain sebagainya.

Perdebatan pelonggaran atau penghilangan PSBB dan sejenisnya, hanyalah membuang waktu dan menjemput penularan serta kematian dari Covid-19.

Kalau hanya bicara PSBB maka kita hanya jalan ditempat saja.

Sebenarnya, menurut saya, mau menegakkan disiplin seperti apapun maka:

1. Virus tdk akan pernah hilang;
2. Hanya menunda penyebaran, penularan dan kematian.
3. Hanya membuat rata, area penyebaran tingkat penularan dan kematian;
4. Hanya akan memberikan kesempatan untuk virus menjadi lebih kuat dan leluasa dalam bermutasi.

Virus hanya bisa dilawan oleh Antibodi. Vaksin baik yg berasal dari isolat virus ataupun mRNA (rekayasa yg membentuk Antigen dan Antibodi dlm tubuh sendir), adalah:

1. Hanya untuk orang sehat;
2. Hanya efektif pd tubuh yang dapat merespon dg baik dan tepat;
3. Baru mulai efektif setelah paling cepat 1 bulan setelah disuntikan.
4. Proses pencegahan yang membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk dapat diaplikansikan pada manusia, karena waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan yang cukup lama dan prosesnya lebih rumit;
5. Upaya yang tetap beresiko kematian juga karena ada potensi masalah “kelebihan antibodi” yang bisa spt penyakit “autoimun” dan telah ada contoh menimbulkan ADE hingga ALI.

Sedangkan obat-obatan belum pernah ditemukan yang merata ampuh dalam membunuh virusnya. Sangat variatif dan beragam di tiap wilayah. 

Sebagian dari obat-obatan lebih kepada mengatasi symptom dari gejala yg ditimbulkan oleh virus itu sendiri dan menghambat perkembangan virus tersebut. 

Obat-obatan yang ada sekarang hanyalah obat-obatan untuk penyakit yang ada sebelumnya, jadi hanya repurposing saja, kemudian dicoba, dikombinasikan dan digunakan untuk penanganan Covid-19.

Saat ini untuk mengatasi kedaruratan dan kematian jalan keluarnya hanyalah bagaimana manusia yang sakit disembuhkan. Manusia terinfeksi disembuhkan. Manusia yang sakit diterapi sebagai ikhtiar kewajiban manusia lainnya yang sehat bukan sekedar sebagai upaya penyembuhan, tetapi juga mencegah kematian. Menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan kehidupan dan kemanusiaan.

Bagaimana caranya?

Sesuai dengan Prakarsa kami, maka bagi mereka yang sakit, harus diterapi dengan diberikan Antiserum untuk menjadi Antibodi yang melawan virus dalam tubuh manusia. Antiserum untuk penyembuhan bagi yang sakit dan untuk pencegahan bagi yang masih sehat. 

Antiserum ini dijadikan terapi imunisasi pasif bagi yang sakit dan juga sehat, untuk mencegah peningkatan dampak buruk dari infeksi yang dapat menyebabkan kematian.

Rekomendasi yang menjadi bagian dari Refleksi dalam tukisan ini, adalah bagaimana segenap sumberdaya yang ada di Indonesia “dipaksa” untuk difokuskan oleh pemerintah agar dapat mengedepankan dan mengutamakan untuk segera merealisasikan pembuatan IgY Antiserum Covid-19.  Indonesia mampu dan sangat mampu untuk melakukannya.

Hal ini selain efisien, ekonomis, efektit juga jauh relatif aman dan beresiko rendah, serta dapat di produksi masal (scale up) dlm waktu yang lebih cepat.

Serta hal inipun tidak perlu menghentikan seluruh riset dan inovasi yang telah ada terkait Covid-19, karena masing-masing mempunyai “arena perjuangan” sendiri. Hanya saja IgY Antiserum Covid-19, memenuhi rasionalitas untuk didahulukan guna mengatasi penularan, penyebaran hingga tingkat kematian dalam kondisi kedaruratan kesehatan dan potensi turbulensi ekonomi di Indonesia.

Sebagai catatan, dalam menggunakan pendekatan Antiserum ini telah dilakukan oleh bbrp negara bagian USA, Israel, China, maupun Belanda.

Bahkan IgY Antiserum untuk Covid-19 buatan USA yang baru dimulai pada akhir April-awal Mei, akan dapat “dinikmati” sekitar Oktober 2020.

Haruskah kita import lagi, mana Kemandirian dan Kedaulatan Kesehatan Indonesia?

Melakukan percepatan produksi IgY Antiserum Covid-19, bukan saja wujud momentum Kebangkitan Riset, Inovasi dan Teknologi, tetapi titik tolak Kebangkitan Supermasi Indonesia di dunia dalam menjaga kehidupan pada “Era New Normal”.


Kota Bogor,
Rabu 20 Mei 2020

Andrea H Poeloengan
Salah satu Pemrakarsa
Prakarsa Percepatan Produksi
IgY Antiserum Covid-19

Comment