No icon

Media Yang Menayangkan Berita Penolakan 1 Desember Sebagai Hari Kemerdekaan Papua Adalah Media Yang Ikut Mencerdaskan Anak2 Papua

Poros.News - Media hari ini meramaikan pemberitaan tentang Tokoh-Tokoh Papua, baik tokoh adat maupun tokoh pejuang yang menolak 1 Desember sebagai Hari Kemerdekaan Papua. Media yang menayangkan berita tentang penolakan 1 Desember sebagai hari kemerdekaan Papua, bagi saya adalah media yang ikut mencerdaskan anak-anak Papua. Generasi Papua harus tahu sejarah yang sebenarnya tentang Papua, bukan diputar balik faktanya.

Hal ini sangat kontra dengan media tabloidjubi dot com yang menayangkan berita yang sangat kontroversi dengan situasi yang ada, dimana pada hari yang sama juga (28/11/2017) tabloidjubi dot com menayangkan berita dengan judul “Masyarakat di seluruh Pegunungan Tengah diimbau tetap tenang karena peringatan tidak terkait dengan situasi di Timika”. Terlihat kalau tabloidjubi dot com melakukan upaya-upaya untuk mendukung kemerdekaan Papua.

Di saat pemerintah berupaya untuk mencerdaskan generasi Papua, sebagian besar berita tabloidjubi dot com justru bertolak belakang dengan pemerintan. Memang benar era sekarang adalah era keterbukaan publik, tetapi harus juga dilihat, mana berita yang bermanfaat dan mana yang dapat merugikan publik demi mencerdaskan generasi Papua.

Seperti yang ditayangkan oleh media pasificpos dot com (28/11/2017). Dalam pemberitaannya yang berjudul “Tokoh Adat Jayapura Tegas Tolak 1 Desember Sebagai Hari Kemerdekaan Papua” dituliskan bahwa Tokoh adat Papua lewat pernyataan sikapnya menyatakan sejumlah hal, diantaranya menolak dengan tegas tanggal 1 Desember sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua atau hari TPN-OPM serta mendeklarasikan bahwa tanggal 1 Mei 1963 sebagai ”Hari kembalinya Irian Barat” ke pangkuan ibu pertiwi NKRI dan hendaklah tanggal tersebut diberlakukan sebagai hari libur untuk seluruh Papua.

Ondoafi Waena yang juga sebagai Ketua Barisan Merah putih Papua, Ramses Ohee dalam Jumpa pers di Pendopo Yahim Sentani menegaskan kepada semua pihak separatis mulai dari kelompok politik maupun kelompok bersenjata agar menghentikan semua aksi atau demo yang menyerukan kemerdekaan Papua, karena kegiatan aksi makar ini tidak dapat mensejahterakan orang Papua dan hanya menimbulkan perpecahan bagi Bangsa Indonesia sekaligus masyarakat Papua di tanah ini.

Media lainnya adalah news.okezone dot com yang dalam pemberitaannya yang tayang (28/11/2017) dengan judul “Tokoh Pejuang Pepera Tegaskan Papua Bagian dari NKRI”, okezone menuliskan Tokoh pejuang Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, Ramses Ohee, bersama Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya, dan para tokoh adat di tujuh wilayah adat Papua menegaskan keberadaan Papua sebagai bagian dari NKRI adalah final. Ia menegaskan, tidak ada perayaan 1 Desember sebagai Kemerdekaan Papua, Pepera 1969 adalah hasil kesepakatan dari tokoh-tokoh adat Papua saat itu.
"Ada sekitar seribu lebih tokoh adat Papua dari pantai, lembah, dan gunung turut dalam Pepera 69 itu, termasuk saya. Kemudian hasil Pepera itu dibawa ke PBB selanjutnya disahkan. Ini artinya final, kita sudah merdeka," kata Ramses Ohee.

Dan pada media nasional.sindonews dot com yang menayangkan berita dengan judul “Tokoh Pejuang Pepera Tegaskan Papua Bagian NKRI”. Dalam pemberitaannya, menegaskan pernyataan sikap yang dibacakan oleh Martinus Marware, ketua Dewan Adat Kabupaten Jayapura, yang menolak dengan tegas tanggal 1 Desember sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua atau hari TPN-OPM dan mendeklarasikan bahwa tanggal 1 Mei 1963 sebagai 'Hari Kembalinya Irian Barat' ke pangkuan ibu pertiwi NKRI.

Begitu juga dengan media elshinta dot com yang berjudul “LMA Papua tolak 1 Desember sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua”. Dalam tayangannya, Ketua LMA Kabupaten Jayapura, Martinus Marware mengatakan bahwa 1 Mei 1963 telah dideklarasikan sebagai Hari Kembalinya Irian Barat ke Pangkuan Ibu Pertiwi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kami menolak dengan tegas seluruh kegiatan dan aktivitas kelompok politik maupun kelompok bersenjata serta ormas-ormas yang tidak pro-NKRI yang bertujuan untuk memecahbelah dan merusak rasa persaudaraan kami masyarakat Papua dan Bangsa Indonesia. Kita harus mengingat sejarah bangsa, bahwa Papua merupakan bagian dari Indonesia yang telah diperjuangkan oleh seluruh pahlawan bangsa dari berbagai suku, ras, agama dan bahasa,” kata Martinus.

Sebagai generasi Papua, kita harus ikut peduli menyampaikan kepada anak-anak kita bahwa tanggal 1 Desember bukanlah hari kemerdekaan Papua.

John Kogoya

Comment