No icon

Health

IgY Antiserum Covid-19 dan Harapan Kepulihan Indonesia

Poros.news - Israel dan tentunya AS sedang berlomba-lomba membuat Antiserum Covid-19 (Serum Anti Covid-19) melalui rekayasa transgenik IgG monoklonal untuk merubah Fc reseptor mamalia agar dapat menghindari potensi Antibody Dependent-Enhancement (ADE) guna mencegah kematian pasien Covid-19, dengan riset yang mahal dan begitu rumit. Adanya potensi ADE yaitu terjadinya peningkatan keganasan virus karena adanya peningkatan antibodi sebagai side effect dari penggunaan Vaksin.

Tapi perlu diingat, bahwa Tuhan dan Alamnya menyediakan Immunoglobulin Yolk (IgY) dari kuning telur ayam petelur, yang tidak mempunyai afinitas perlekatan terhadap reseptor Fc (reseptor mamalia), sehingga jika dijadikan Antiserum menjadi aman, serta tidak menimbulkan ADE. 

Inilah akal, sebuah kelebihan manusia, untuk memanfaatkan ciptaan Tuhan berupa Alam dan isinya, dalam mengatasi pandemik Covid-19, yaitu memproduksi IgY Antiserum Covid-19.

Antiserum digunakan untuk imunisasi pasif sehingga dengan cepat tubuh mendapat Antibodi, guna melawan Virus Covid-19 (SARS-Cov-2), sebagai upaya Immunotherapy (terapi kekebalan).

Sangat disayangkan, Indonesia yang dapat membuat hal yang serupa dengan menggunakan Teknologi IgY dan Antiserum yang lebih sederhana lagi murah, belum mendapat tempat yang serius, se-serius apa yang dilakukan Israel dan AS.

Setelah pandemik Covid-19 ini semuanya menurun, maka secara alamiah dapat terbentuk Herd Immunity, dengan jumlah sekitar 70% populasi penduduk, dimana merekalah yang akan hidup dengan Covid-19. Sehingga jika penduduk Indonesia itu berjumlah 270 juta maka ada 189 juta yang akan hidup dengan virus tersebut.

Bagaimana nasib mereka? Haruskah dibiarkan peluang kematian tetap lebih besar karena belum ada obat-obat khusus diproduksi untuk pengobatan Covid-19? Yang ada saat ini adalah Repurposing sejumlah jenis obat untuk penyakit lain yang dikombinasikan (diracik) agar dapat digunakan untuk pengobatan Covid-19. 

Untuk yang terpapar, tidak dapat di vaksin, karena vaksin hanya untuk orang sehat. Belum lagi, efektifitas Vaksin dalam tubuh manusia memakan waktu paling cepat baru berpengaruh sebulan. tidak pernah tahu vaksin yang tepat kapan jadinya, terlebih untuk Vaksin ada juga resiko Acute Lung Injury (ALI) dan selain ADE tadi.

Kalau ternyata nantinya Indonesia akan mengikuti trend pengobatan dunia dengan Immunotherapy melalui Antiserum.  Akan tetapi Indonesia tidak memiliki produk Antiserum sendiri (IgY Antiserum Covid-19), maka harus impor produk Israel atau Amerika Serikat tersebut. 

Jika nantinya melakukan Impor Antiserum misalnya, tarulah harganya USD 4/per dosis.

Sekarang seandainya butuh 2 dosis untuk perorang, maka jadi USD 8/perorang dengan kurs Rp.15.000,- maka per orang butuh biaya Rp. 120.000,-.  Untuk itu total biaya yang dibutuhkan Rp. 120.000,- x 189 juta penduduk Indonesia = Rp. 22.680.000.000.000,- (+ biaya perawatan RS + biaya sosial krn mrk positif + biaya ekonomi).

Itulah biaya yang tidak perlu dikeluarkan oleh Indonesia jika mau membuat IgY Antiserum Covid-19.

Kalau kita buat sendiri, In Sya Allah, bisa kita atasi itu semua, tidak perlu PSBB, kehidupan normal, sekolah mulai lagi, kampus menjadi lebih semarak, pedagang berjualan, perekonomian jalan, pabrik buka, parawisata hidup...

Tapi sayang berjuta sayang, ternyata Indonesia belum dapat mengisolasi virus (isolated virus), untuk dapat menjadi “bibit virus” yang akan dikembangkan menjadi Antiserum ataupun Vaksin. Indonesia baru memiliki 3 jenis Virus dari Whole Genome Sequencing (WGS).

Tidak ada Isolate, artinya belum dapat memulai untuk membuat Antiserum, apalagi Vaksin yang jauh lebih rumit.

Prihatin.


Kota Bogor, 06052020
Untuk Indonesia dan Kemanusiaan
Andrea H Poeloengan, SH, M.Hum, MTCP
(Salah satu Pemrakarsa, Prakarsa Produksi IgY Antiserum Covid-19)

Comment